Wednesday, May 27, 2015

cerpen

Keterlambatanku Untuk Mengakui

Oleh : Nasyatal Ula Hawa Hazuwa
Aku dilahirkan sebagai anak pertama dalam keluarga ini. Hidupku sangat bahagia,bagaikan bidadari kecil dalam keluargaku. Semua keinginanku selalu dipenuhi oleh orang tuaku. Pokoknya, hidupku serasa di surga. Aku bahagia memiliki mereka, karena mereka sangat sayang kepadaku. Hari ini adalah ulang tahunku yang ke 10. Seperti ulang tahun di tahun-tahun sebelumnya, orang tuaku merayakannya dengan mengundang semua teman-temanku.
“Tiup lilinya sekarang juga ,sekarang juga...” seruan semua orang yang hadir.

“Huuuft” tiupku dengan kencang.

“Selamat ya Tata sayang, semoga jadi anak yag lebih baik.” harapan Ayah kepadaku.

“Iya Ayah.”

“Aaaaaaaa.. Ayah ,perut Ibu sakit.” jerit Ibu kesakitan.

                Iya, tepat disaat aku berulang tahun, datanglah seseorang yang akan menemaniku nantinya. Aku akan mempunyai adik baru, perasaan bahagia terus menerpaku saat itu. Aku pun menemani Ayah menunggu informasi dari dokter sembari berdoa setiap detik. Selang beberapa menit pintu pun terbuka.

“Pak, Alhamdulillah anak Bapak putri, istri dan anak Bapak selamat. Tapi.....” Dokter sepertinya ragu untuk mengatakannya.

“Tapi apa Pak Dokter?” tanya Ayahku.

                Tujuh tahun pun berlansung sangat cepat. Sekarang aku mulai menjadi Tata yang berusia 17 tahun. Namun, kebahagiaan serasa hilang dan lenyap dalam hidupku, semenjak kelahiran Nana.

“Kak Tata...ambilin pensilku dong kak.” seru Nana mencoba meminta tolong.

“Gak ah, ambil aja sendiri, aku kan lagi sibuk.” ujarku ketus.

“Ayo Kak, ambilin. Tolong..” pinta Nana lagi.

“Gak ya nggak , bisa dibilangin nggak sih.” ujarku marah.

                Aku memang tidak pernah suka dengan bocah kecil itu, smenjak dia ada dalam keluargaku, sepertinya kedua orang tuaku telah melupakan anak sulungnya. Aku pun sekarang sering memarahinya karena aku memang benci dia. Sudah beberapa kali orang tuaku menegur , tapi aku tetap dengan pendirianku.

“Ibu.. Kak Tata jahat Bu..” seru Nana sambil menangis.

“Eh Na, gak usah sebut Ibu dong.” pintaku dengan mendorong kepalanya kebelakang.

                Tak sengaja, kepala Nana terbentur ujung meja. Nana yang saat itu sudah menangis, menambah volume tangisannya. Sehingga mengundang kedatangan Ibu ke lokasi tersebut.

“Ya Allah, apa yang kamu lakukan Ta?” tanya Ibu dengan panik sambil menenangkan Nana.

“A..a..anu Bu..” jawabku gagap dan gugup.

“Jawab Ta, sudah beberapa kali kamu membahayakan adikmu. Kamu sudah pernah menjatuhkannya dari sepeda motor, menyobek buku sekolahnya, kemarin kamu juga membuatnya menangis. Ingat Ta, Nana itu adikmu. Ibu tidak mau mendengar alasanmu lagi. Mengerti kamu!” kata Ibu dengan wajah memerah.

“Iya Bu, dan Tata memang mengerti. Bahwa sekarang Ayah dan Ibu sudah tidak pernah memperhatikan Tata lagi.Semua karena kehadiran Nana Bu, Tata benci Nana . Dikit-dikit Nana, Ibu gak pernah lihat Tata kan?” kumencoba menjelaskan.

                Aku pun segera berlari menuju kamarku dengan menangis tersedu sedu. Sementara Nana dan Ibu masih duduk di sana.

“Aku benci Nana, seharusnya dia tidak ada disini, dan tidak pernah ada diduniaku.”

                Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.

“Ta.. bukain pintunya, udah dari tadi pagi kamu nggak keluar loh. Ini makanan kesukaan kamu sayang.” suara Ibu terdengar lirih.

“Tata, ayo dong. Jangan gitu, Ibu minta maaf deh.” Ibu terus membujuk.

                Tapi, aku tetap tidak mau membuka pintu kamarku. Bahkan, suaraku pun tidak kuperdengarkan kepada mereka.

“Sepertinya Ibu sudah pergi.”sahutku dalam hati.

“Tok..tok ..tok..” (suara pintu diketuk.)

“Kak Tata, maafin Nana Kak. Nana yang salah, seharusnya memang Nana nggak pernah ada di hidup Kakak. Nana memang bisanya ngrepotin dan bikin Kak Tata marah, emang Nana nggak berguna. Sekali lagi maaf Kak. Nana sayang Kak Tata.” terdengar suara Nana dari luar.

“Dengerin ya Na, semua yang kamu omongin tadi itu emang bener. Makanya jangan sekali kali cari perhatian Ayah sama Ibu deh Na. Centil banget sih.” ucapku dari dalam.

“Maaf kak, Nana cuma bisa minta maaf. Nana sayang Kak Tataaaa...” sahut Nana terdengar menangis.

                Sudah beberapa jam aku didalam kamar, perutku terasa lapar dan memaksaku keluar untuk mencari makanan.

“Ta, tolong dengerin Ibu ngomong sebentar, please.” Pinta Ibu kepadaku.

“Iya Bu, ngomong aja.” Jawabku santai.

“Ibu minta kamu ngertiin keadaan Nana. Kamu tau sendiri kan, sejak lahir keadaan fisik Nana tidak sempurna seperti kamu Ta. Lihat kaki adikmu sekarang, untuk berjalan saja kesusahan. Tapi, sekarang yang Nana butuhkan adalah kasih sayang dari seorang Kakak, yaitu kamu sayang. Ayah dan Ibu bukan berarti pilih kasih, tapi memang Nana butuh kasih sayang lebih Ta. Jadi Ibu minta, tolong beri Nana sedikit kebahagiaan bersama kamu.” Seru Ibu dengan meneteskan air mata.

                Aku menjawab semua nasehat Ibuku hanya dengan satu anggukan saja. Aku pun berlari menuju kamar Nana, memandangi wajah bocah kecil itu dengan sangat iba. Melihat keadaan fisiknya sekarang, jauh berbeda dengan diriku. Saat itu juga tetes demi tetes air mata terjatuh , aku tidak tahan dengan semua kelakuanku selama ini kepada Nana. Seraya, dalam hatiku memberontak ingin meminta maaf kepada anak kecil ini. Kulihat disamping Nana ada sebuah buku mungil, kubuka saja lalu kubaca. Tetesan air mata ini semakin deras.

                Bagaimana tidak? aku terharu melihat tulisannya, didalamnya bertuliskan keinginannya untuk mendapatkan satu senyum saja dariku. Keinginannya untuk membahagiakan aku pun sangat besar dan sangat tulus. Sungguh, ini benar-benar tulisan terindah yang pernah kubaca  sampai saat ini. Aku pun tersadar dari semua kesalahanku kepadanya, dan akan memberikan beribu kebahagiaan kepadanya kelak.

“Kak Tata kenapa nangis? Apa Nana buat salah lagi?.Maafin Nana Kak.” Nana terbangun.

“Nana.... maafin Kakak ya sayang. Aku belum bisa jadi Kakak yang baik buat kamu. Kakak janji akan selau tersenyum buat Nana. Kamu mau kan maafin Kakak?” seruku kepada Nana sambil memeluknya.

“Nana sayang banget sama Kakak, Kakak nggak perlu minta maaf Kak. Nana sudah maafin Kakak kok.” jawab Nana tulus.

“Iya Na, Kakak janji besok kita beli ice cream sama-sama ya?” pintaku kepada Nana.

“Siap Kak.. makasih Kakak.” seru Nana imut.

“Iya sayang, sama-sama.” Jawabku terharu .

                Keesokan hari dan seterusnya, aku pun selalu tertawa dengan Nana. Sepertinya tiada hari tanpa bahagia untuk aku dan dia. Nana bocah kecil namun banyak mewarnai hidupku. Ternyata hal seperti ini yang kudambakan sejak dulu. Maka jangan sia-siakan orang yang tulus menyayangimu.
I love you Nana jangan pernah bosan memaafkan aku.  


                         NASYATUL ULA HAWA HAZUWA (X-MIA.1)

0 comments:

Post a Comment