Keterlambatanku Untuk Mengakui
Oleh : Nasyatal Ula Hawa Hazuwa
Aku dilahirkan sebagai anak pertama dalam keluarga ini. Hidupku sangat
bahagia,bagaikan bidadari kecil dalam keluargaku. Semua keinginanku selalu
dipenuhi oleh orang tuaku. Pokoknya, hidupku serasa di surga. Aku bahagia memiliki
mereka, karena mereka sangat sayang kepadaku. Hari ini adalah ulang tahunku
yang ke 10. Seperti ulang tahun di tahun-tahun sebelumnya, orang tuaku
merayakannya dengan mengundang semua teman-temanku.
“Tiup lilinya sekarang juga ,sekarang juga...” seruan
semua orang yang hadir.
“Huuuft” tiupku dengan kencang.
“Selamat ya Tata sayang, semoga jadi anak yag lebih
baik.” harapan Ayah kepadaku.
“Iya Ayah.”
“Aaaaaaaa.. Ayah ,perut Ibu sakit.” jerit Ibu
kesakitan.
Iya,
tepat disaat aku berulang tahun, datanglah seseorang yang akan menemaniku
nantinya. Aku akan mempunyai adik baru, perasaan bahagia terus menerpaku saat
itu. Aku pun menemani Ayah menunggu informasi dari dokter sembari berdoa setiap
detik. Selang beberapa menit pintu pun terbuka.
“Pak, Alhamdulillah anak Bapak putri, istri dan
anak Bapak selamat. Tapi.....” Dokter sepertinya ragu untuk mengatakannya.
“Tapi apa Pak Dokter?” tanya Ayahku.
Tujuh
tahun pun berlansung sangat cepat. Sekarang aku mulai menjadi Tata yang berusia
17 tahun. Namun, kebahagiaan serasa hilang dan lenyap dalam hidupku, semenjak
kelahiran Nana.
“Kak Tata...ambilin pensilku dong kak.” seru Nana
mencoba meminta tolong.
“Gak ah, ambil aja sendiri, aku kan lagi sibuk.”
ujarku ketus.
“Ayo Kak, ambilin. Tolong..” pinta Nana lagi.
“Gak ya nggak , bisa dibilangin nggak sih.” ujarku
marah.
Aku
memang tidak pernah suka dengan bocah kecil itu, smenjak dia ada dalam
keluargaku, sepertinya kedua orang tuaku telah melupakan anak sulungnya. Aku
pun sekarang sering memarahinya karena aku memang benci dia. Sudah beberapa
kali orang tuaku menegur , tapi aku tetap dengan pendirianku.
“Ibu.. Kak Tata jahat Bu..” seru Nana sambil
menangis.
“Eh Na, gak usah sebut Ibu dong.” pintaku dengan
mendorong kepalanya kebelakang.
Tak
sengaja, kepala Nana terbentur ujung meja. Nana yang saat itu sudah menangis,
menambah volume tangisannya. Sehingga mengundang kedatangan Ibu ke lokasi
tersebut.
“Ya Allah, apa yang kamu lakukan Ta?” tanya Ibu
dengan panik sambil menenangkan Nana.
“A..a..anu Bu..” jawabku gagap dan gugup.
“Jawab Ta, sudah beberapa kali kamu membahayakan
adikmu. Kamu sudah pernah menjatuhkannya dari sepeda motor, menyobek buku
sekolahnya, kemarin kamu juga membuatnya menangis. Ingat Ta, Nana itu adikmu. Ibu
tidak mau mendengar alasanmu lagi. Mengerti kamu!” kata Ibu dengan wajah
memerah.
“Iya Bu, dan Tata memang mengerti. Bahwa sekarang
Ayah dan Ibu sudah tidak pernah memperhatikan Tata lagi.Semua karena kehadiran
Nana Bu, Tata benci Nana . Dikit-dikit Nana, Ibu gak pernah lihat Tata kan?”
kumencoba menjelaskan.
Aku
pun segera berlari menuju kamarku dengan menangis tersedu sedu. Sementara Nana
dan Ibu masih duduk di sana.
“Aku benci Nana, seharusnya dia tidak ada disini,
dan tidak pernah ada diduniaku.”
Tak
lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
“Ta.. bukain pintunya, udah dari tadi pagi kamu
nggak keluar loh. Ini makanan kesukaan kamu sayang.” suara Ibu terdengar lirih.
“Tata, ayo dong. Jangan gitu, Ibu minta maaf deh.”
Ibu terus membujuk.
Tapi,
aku tetap tidak mau membuka pintu kamarku. Bahkan, suaraku pun tidak
kuperdengarkan kepada mereka.
“Sepertinya Ibu sudah pergi.”sahutku dalam hati.
“Tok..tok ..tok..” (suara pintu diketuk.)
“Kak Tata, maafin Nana Kak. Nana yang salah,
seharusnya memang Nana nggak pernah ada di hidup Kakak. Nana memang bisanya
ngrepotin dan bikin Kak Tata marah, emang Nana nggak berguna. Sekali lagi maaf
Kak. Nana sayang Kak Tata.” terdengar suara Nana dari luar.
“Dengerin ya Na, semua yang kamu omongin tadi itu
emang bener. Makanya jangan sekali kali cari perhatian Ayah sama Ibu deh Na. Centil
banget sih.” ucapku dari dalam.
“Maaf kak, Nana cuma bisa minta maaf. Nana sayang
Kak Tataaaa...” sahut Nana terdengar menangis.
Sudah
beberapa jam aku didalam kamar, perutku terasa lapar dan memaksaku keluar untuk
mencari makanan.
“Ta, tolong dengerin Ibu ngomong sebentar, please.”
Pinta Ibu kepadaku.
“Iya Bu, ngomong aja.” Jawabku santai.
“Ibu minta kamu ngertiin keadaan Nana. Kamu tau
sendiri kan, sejak lahir keadaan fisik Nana tidak sempurna seperti kamu Ta.
Lihat kaki adikmu sekarang, untuk berjalan saja kesusahan. Tapi, sekarang yang
Nana butuhkan adalah kasih sayang dari seorang Kakak, yaitu kamu sayang. Ayah
dan Ibu bukan berarti pilih kasih, tapi memang Nana butuh kasih sayang lebih Ta.
Jadi Ibu minta, tolong beri Nana sedikit kebahagiaan bersama kamu.” Seru Ibu
dengan meneteskan air mata.
Aku
menjawab semua nasehat Ibuku hanya dengan satu anggukan saja. Aku pun berlari
menuju kamar Nana, memandangi wajah bocah kecil itu dengan sangat iba. Melihat
keadaan fisiknya sekarang, jauh berbeda dengan diriku. Saat itu juga tetes demi
tetes air mata terjatuh , aku tidak tahan dengan semua kelakuanku selama ini
kepada Nana. Seraya, dalam hatiku memberontak ingin meminta maaf kepada anak
kecil ini. Kulihat disamping Nana ada sebuah buku mungil, kubuka saja lalu
kubaca. Tetesan air mata ini semakin deras.
Bagaimana
tidak? aku terharu melihat tulisannya, didalamnya bertuliskan keinginannya
untuk mendapatkan satu senyum saja dariku. Keinginannya untuk membahagiakan aku
pun sangat besar dan sangat tulus. Sungguh, ini benar-benar tulisan terindah
yang pernah kubaca sampai saat ini. Aku
pun tersadar dari semua kesalahanku kepadanya, dan akan memberikan beribu kebahagiaan
kepadanya kelak.
“Kak Tata kenapa nangis? Apa Nana buat salah
lagi?.Maafin Nana Kak.” Nana terbangun.
“Nana.... maafin Kakak ya sayang. Aku belum bisa
jadi Kakak yang baik buat kamu. Kakak janji akan selau tersenyum buat Nana.
Kamu mau kan maafin Kakak?” seruku kepada Nana sambil memeluknya.
“Nana sayang banget sama Kakak, Kakak nggak perlu minta
maaf Kak. Nana sudah maafin Kakak kok.” jawab Nana tulus.
“Iya Na, Kakak janji besok kita beli ice cream
sama-sama ya?” pintaku kepada Nana.
“Siap Kak.. makasih Kakak.” seru Nana imut.
“Iya sayang, sama-sama.” Jawabku terharu .
Keesokan
hari dan seterusnya, aku pun selalu tertawa dengan Nana. Sepertinya tiada hari
tanpa bahagia untuk aku dan dia. Nana bocah kecil namun banyak mewarnai
hidupku. Ternyata hal seperti ini yang kudambakan sejak dulu. Maka jangan
sia-siakan orang yang tulus menyayangimu.
I love you Nana jangan pernah bosan memaafkan aku.
NASYATUL ULA HAWA
HAZUWA (X-MIA.1)






0 comments:
Post a Comment