Wednesday, May 27, 2015

ARTIKEL

                    Sejarah Sastra Bangsa Kita
Oleh Hana Agustina
Pelajaran sejarah sudah tak asing lagi bagi telinga kita yang notabennya lulusan/tamatan SMA/SMK/MA ata sederajat. Akan tetapi, ilmu tersebut cenderung tak popular dikalangan kita masyarakat Indonesia. Usianya juga relative masih muda kalau dihitung dari pertumbuhannya pada akhir tahun 1920-an. Tak sedikit dan tak jarang pula yang mengatakan sejarah penting dan banyak manfaatnya. Pernah pula, presiden republik Indonesia menyampaikan pidatonya dengan kalimat jas merah (jangan lupakan sejarah). Hanya saja masih jarang yang menjejaki ilmu sejarah, walaupun hal tersebut.
Dalam mengerti sejarah (Gott chal,1975) dijelaskan secara panjang lebar pengertian sejarah (history) yang berasal dari kata benda Yunani istoria yang berarti ilmu. Oleh filsuf aristoteles, kata tersebut diartikan sebagai pertelaan sistematis mengenai seperangkat gejala alam, entah susunan kronologimerupakan faktor/ tidak didalam pertelaan.
Sejarah bukanlah objek kajian yang otonom karena sejarah selalu mengalami perkembangan dari abad ke abad mulai pada tahun 1920-an dengan terbitnya azab dan sengsara karangan Merari Siregar, sedangkan puisi Indonesia baru dimulai tahun 1928-an dengan sajak-sajak Muhammad Yamin dan Rusman Effendi.
Perhatian masyarakat Indonesia mengenai masalah sejarah sastra tampak sejak awal pertumbuhan sastra Indonesia ditahun1930-an sebagaimana terbaca dalam “polemik kebudayaan “ suntingan Achidat K. Mihardja (1977). Polemic antara tokoh-tokoh S. Takdir Alisjaabana, Sanusi Pane, Poerbadjaraka, M.Amir, Ki Hajar Dewantar, Adinegoro dll walaupun tidak secara khusus memperdebatkan konsep kasusasteraan Indonesia, dikatakan Ajip bahwa tradisi sastra berbahasa daerah telah berkembang selam berabad-abad dengan khazanah yang berlimpah. Perubahan pun terjadi sejalan dengan tumbuhnya pers (surat kabar) mulai pertengahan abad ke-19 yang memperkenalkan bahasa prosa yang lugas dan praktis untuk menyampaikan kehidupan sehari-hari. Ditambah dengan bacaan sastra Eropa melalui Belanda maka orang mempergunakan bahasa prosa untuk bercerita yang akhirnya melahirkan cerbung (cerita bersambung) dikoran-koran, dan baru pada tahun 1920an terbitlah roman-roman berbahasa melayu melalui Penerbit Balai Pustaka.
Bahasan lain oleh Jacob Sumardjo tahuun 1992 pada buku “Dalam Lintasan Sejarah Sastra Indonesia”, yakni mengenai ajakannya memperhatikan sastra Melayu Rendah dan sastra peranakan tionghoa yang berkembang pada akhir abad ke-19 sekaligus menjadi embrio sastra Indonesia sehingga aawal sastra Indonesia tidak semata-mata pada peranan Balai Pustaka tahun 1917.
Pada zaman penjajahan Belanda abad ke-19 belum ada bahasa Indonesia yang berkembang yaitu bahasa-bahasa daerah diantaranya bahasa melayu, sunda, jawa, dan bali. Namun dengan sendirinya, sastra yang berkembangpun berasal dari bahasa daerah tersebut, akan tetapi yang berperan penting adalah bahasa jawa, melayu, dan sunda. Perkenalan dan pandangan terhadap kesusastraan Indonesia tidak lepas dari latar belakang sejarah dan kemasyarakatan. Dijelaskan Teew bahwa pembicaraan awal tentang sastra Indonesia pasti terkait dengan pertumbuhan bahasa melayu yang bermula abad ke-7, hingga kemudian menjadi bahasa Indonesia awal abad ke-20 sebagaimana terangkum dalam sumpah pemuda.
Ditegaskan kembali oleh Bakri Siregar yang mengatakan bahwa masa awal sastra modern tidak bisa dipisahkan dari masalah masyarakat dan bangsa Indonesia dalam perkembangan sejarahnya dan dengan alat sastra itulah kesadaran sosial dan politik bangsa indonesia pada awal abad ke-20 mulai nampak. Pandangan tersebut disampaikan oleh Bakri Siregar diantaranya tokoh-tokoh pahlawan multitatuli, R.A kartini, Ki Hajar Dewantara, Mas Marco Kortodikromo, Semaun, dan Rustam Efendi. Tokoh tersebut sebagai juru bicara tentang kesadaran sosial melawan kolonialisme Belanda.
Selain itu sejarah telah menunjukkan pesatnya perkembangan sastra golongan tionghoa yang memakai bahasa melayu rendah, baik dikalangan mereka sendiri maupun dikebanyakan masyarakat nusantara yang telah mengenal pendidikan. Sementara itu, sastra daerah seperti melayu, sunda, dan jawa yang mulai bersentuhan dengan kebudayaan barat tidak dapat menjangkau masyarakat yang luas karena kendala bahasa. Akibatnya sastra sunda modern dan sastra jawa modern hanya berkembang dikalangan masyarakat nusantara sendiri. Penjelasan ini lebih pada bagaimana pengaruh sastra golongan tionghoa terhadap pertumbuhan sastra indonesia, karena mereka memakai bahasa melayu rendah yang telah dikenal dan dipergunakan juga oleh masyarakat nusantara.
Segala macam pernyataan tersebut dapat dirangkum bahwa sejarah sastra indonesia tak terlepas dari perjuangan para pahlawan dan masyarakat indonesia sendiri yang dimulai sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 melalui dinamika sosial budaya masyarakat indonesia sendiri.

0 comments:

Post a Comment