From Nothing
To Something, From Zero To Hero
OLEH : VERANICA LANI OCTAVIA
“Masa lalu adalah pilihan yang kita
lalui sedangkan masa depan adalah pilihan yang kita tentukan.”
Hari demi hari telah dilalui
Shilla dengan tangis dan derita setelah ia menjadi murid SMU. Meskipun ia sekolah
ditempat yang baru namun sebagian teman-temannya masih sama seperti saat ia
masih SMP, hal itulah yang membuatnya semakin tersiksa disekolah dan kelas yang
baru. Seperti yang sebelum-sebelumnya Shilla selalu diremehkan dan tak dianggap
oleh teman-temannya. Di kelas Shilla hanya mempunyai 3 orang sahabat yang
mempunyai nasib yang sama dengannya.
Hal yang paling menyakitkan bagi
Shilla dan salah satu sahabatnya yang bernama Ratna adalah ketika mereka rela
kehujanan hanya untuk latihan paduan suara untuk lomba class meeting, tapi apa
yang mereka balas Shilla dan Ratna malah tidak boleh mengikuti lomba itu dengan
alasan Shilla telah mengikuti banyak
lomba padahal ada salah satu temannya yang mengikuti lomba lebih dari Shilla
dan Ratna tidak boleh karena ia dianggap tidak sunggu-sungguh untuk latihan
padahal Ratna belum bisa lagu itu sehingga ia tidak bisa lancar ketika
bernyanyi seperti temannya yang lain.
“Shilla, kamu gak usah ikut
paduan suara, soalnya kamu udah banyak ikut lomba, apa kamu gak kasihan sama
teman-teman kamu yang belum kebagian lomba!” Ujar Dewi wakil ketua kelas.
“Ya udah kalo gak boleh!” Ujar
Shilla dengan penuh kecewa.
“Dan kamu Ratna, sebenarnya aku
pengen mengikutkan kamu lomba paduan suara tapi saat latihan kamu seperti gak
serius latihan, jadi kamu juga gak usah ikut paduan suara!”
“Bukannya aku gak serius latihan
tapi aku belum tahu lagunya jadi aku belum bisa lancar, tapi ya u8dalah kalo
aku gak boleh!” Ujar Ratna dengan rasa kesal.
Ketika Shilla dan Ratna pulang
sekolah, Ratna terus saja mengomel karena ia kesal dan sangat marah bahkan dia
sampai menangis gara-gara wakil ketua kelas dan juga teman-temannya. Tapi
Shilla hanya bisa memendam rasa sedih dihatinya karena ia tidak bisa melawan
mereka yang sudah mempunyai jabatan di kelas sedangkan ia tidak mempunyai
jabatan apa-apa di kelas.
Selain hal seperti itu Shilla
juga sangat menderita di kelasnya karena ketika praktikum kimia, ia juga ikut
dalam pengamatan yang sedang dilakukan oleh gengnya Dewi, tapi ketika mereka
disuruh untuk membuat kelompok, Shilla dan kedua sababatnya malah tidak diajak
didalam kelompok yang melakukan praktikum bersamanya tetapi yang diajak malah
orang lain yang tidak ikut praktikum bersamanya. Hal itulah yang membuat Shilla
semakin merasa tidak dianggap di dalam kelasnya tersebut, sehingga setelah
pelajaran kimia itupun selesai Shilla langsung menuju ke kamar mandi karena ia
sudah tidak tahan lagi untuk menangis akibat perbuatan yang telah mereka
lakukan padanya, tapi untung saja Shilla masih punya sahabat yang setia untuk
menghiburnya terutama sahabatnya yang bernama Ayu. Ketika Shilla sedang ada
masalah pasti Ayu tahu dan ia juga yang selalu menghiburnya, meskipun Ayu juga
mempunyai nasib yang sama seperti Shilla tapi ia selalu berusaha untuk tetap tegar.
“Shil, kamu kenapa?” Tanya Ayu.
“Kenapa si Yu, mereka selau saja
begitu sama aku? Aku gak kuat jika terus-terusan seperti ini, aku gak mau
mereka meremehkan aku terus-menerus!” Jawab Shilla.
“Sabar saja, pasti suatu saat
nanti mereka akan tahu jika perbuatan mereka itu salah, yakinlah suatu saat
nanti kamu bisa lebih dari mereka.”
“Ya, semoga saja seperti itu.”
Hal lain yang menyakitkan yang
dilakukan oleh salah satu dari geng mereka yaitu Mala yang selalu mendapat
rangking 1 di kelas. Mala adalah orang yang selalu meremehkan Shilla, suatu
ketika pada waktu upacara Shilla dan juga Mala berbincang-bincang karena mereka
jenuh melaksanakan upacara tapi dalam keadaan panas. Namun ketika Shilla
berbicara salah, Mala mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan bagi Shilla.
“Aduh, panas banget sih, terus
upacaranya masih lama!” Ucap Mala.
“Gak apa-apa kan masih pagi,
meskipun panas tapi kan ada vitamin C nya.” Ucap Shilla.
“Vitamin
D keles! Ha ha ha gitu kok di kelas IPA!”
Mendengar hal itu Shilla hanya
diam dan menahan rasa sakit dihatinya, meskipun ia tak tahu apakah itu hanya
bercanda atau murni dari isi hatinya.
Sudah berulang kali geng mereka
melakukan perbuatan tidak adil kepada Shilla dan juga teman-teman yang lain
dikelasnya, namun Shilla semakin tergugah untuk menunjukkan bahwa ia bisa lebih
dari mereka. Salah satu usahanya adalah belajar dengan giat.
Setelah beberapa tahun akhirnya
Shilla bisa lulus SMA dan ia juga mendapatkan predikat sebagai salah satu siswa
dengan nilai terbaik, dan ia juga mendapatkan beasiswa untuk kuliah gratis di
universitas yang ia idam-idamkan selama ini. Hal itu merupakan buah dari kesabaran
dan juga ketekunannya dalam meraih keberhasilan. Ia juga berhasil membuktikan
kepada teman-teman yang selalu meremehkannya bahwa ia tidak seperti apa yang
dipikirkan oleh mereka.
Shilla sangat bersyukur kepada
Allah karena semua yang diimpikannya sudah menjadi kenyataan dan ia berhasil
membanggakan kedua orang tuanya. Hal itulah yang membuat Shilla semakin
semangat untuk bekerja keras untuk mewujudkan cita-citanya.
“Life is a game, to be a good person for the winner or to be a bad person for the loser.”






0 comments:
Post a Comment